![]() |
| Sumber foto: Milik pribadi di akun FB |
Seorang Mahasiswa sedang menempuh Ilmu di salah satu perguruan tinggi di kota Jayapura membuat status seperti dibawa ini👇
"Jika nnti sa dapat suami lagi, Sa akan kasih ijin dia kawin banyak,bikin anak banyak. Yg penting papa lutut kuat😁papa mampu menjamin kebutuhan semua istri dan anak2😁
Krn Papua ini butuh manusia,mau de lahir jadi anak baik dan berguna k,mau jadi preman dll itu kembali ke orang tua dan cara mendidik anak. Yg penting bikin anak banyak2☺️ Pokonya sa pu laki anak harus banyak😭 Sdh jang kam komen😏🙄🤪 "
Pendapat penulis pribadi bahwa" Saya sangat setuju dengan status dari saudari Weyagwe Aryani di atas ini , karena mengapa ? Saya dengan melihat situasi dan kondisi yang sangat amat menyedihkan atas populasi sumber daya manusia Papua (SDMP). Walaupun kita tahu bahwa membangun rumah tangga itu tidak mudah dibalik telapak tangan
Jadi, perempuan Papua harus bisa merenungkan bahwa apakah yang harus lakukan dengan sumber daya manusia Papua yang sedang punah ini?
Dan juga kami (laki-laki) buat apa saya lahir sebagai laki-laki Papua? Sambil kita menjadi diri masing-masing.
Membuat status memang sangat kontroversial dengan kehidupan rumah tangga yang sedang jalan, namun kenapa sampai membuat status seperti ini???
Mari kita bahas👌
Ya, Papua sangat membutuhkan penguatan sumber daya manusia, terutama SDM Orang Asli Papua (OAP)—di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pemerintahan, dan teknologi.
Namun, bukan karena orang Papua “punah”, melainkan karena banyaknya tantangan struktural yang membuat kualitas dan jumlah SDM unggul belum berkembang secara maksimal.
Apakah benar orang Papua sedang punah?
Jawabannya "Ya"
Ada kekhawatiran nyata yang sering disuarakan masyarakat dan tokoh Papua, antara lain:
- Pertumbuhan penduduk OAP lebih lambat dibandingkan pendatang
- Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi di beberapa wilayah
- Akses pendidikan dan kesehatan terbatas, terutama di pedalaman
- Kemiskinan struktural dan marginalisasi
- Perubahan sosial-budaya yang cepat
- Migrasi besar-besaran yang membuat OAP merasa tersisih di tanah sendiri
Jadi yang terjadi bukan kepunahan secara biologis, risiko keterpinggiran demografis, sosial, dan ekonomi.
Masalah utamanya adalah semakin hari jumlah penduduk asli Papua semakin manurun menurut statistik Indonesia tercatat 4 juta lebih secara umum.
Namun dikalkulasikan hanya orang asli Papua saja kurang lebih ± 973.139( West Papua Voice)
Kami melihat kualitas & perlindungan Isu Papua lebih tepat disebut sebagai:
krisis keadilan, krisis SDM, dan krisis perlindungan Orang Asli Papua. Banyak anak Papua yang cerdas dan berpotensi, tetapi:
- Sekolah jauh & minim guru
- Fasilitas kesehatan kurang
- Lapangan kerja terbatas
- Lurang pendampingan berkelanjutan
- Jumlah kemiskinan semakin meningkat
Apa yang sebenarnya dibutuhkan Papua?
- Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri
- Pendidikan harus mengutamakan
- Kesehatan ibu & anak Harus Menanggani Serius
- Pelatihan keterampilan dan vokasi membuat orang Papua
- Pemberdayaan ekonomi lokal harus disosialisasikan pada tingkat bawa, menengah sampai atas
- Perlindungan budaya dan hak adat harus ditegakkan
- Peran gereja, adat, dan komunitas lokal harus ditingkat
- Salin mendorong sesama orang Papua Merdeka
Kesimpulan singkat
- Orang Papua sedang tidak baik-baik saja
- Ada ancaman serius keterpinggiran terhadap orang Papua
- Papua sangat membutuhkan pembangunan SDM, khususnya Orang Asli Papua
- Solusinya bukan menakut-nakuti, tetapi memberdayakan, melindungi, dan memanusiakan Manusia
Semoga tulisan sederhana ini, bisa membuka wawasan kita terhadap perkembangan sumber daya manusia Papua (SDMP)
Sekian dan terima kasih waaa waaa waaaa🙏💪
OLEH LIWIYA ULAGA: Kutime, 15 Januari 2026

0 Komentar